Profile

Tag





dakwatuna.com – Gaza, Batalion Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas mengumumkan, kadernya yang gugur sebanyak 1780 selama 22 tahun sejak sayap militer ini dibentuk.

Batalion menambahkan dalam pernyataan militernya di situs resminya alqassam kemarin Senin (14/12) dalam peringatan ulang tahun Hamas ke 22 bahwa perlawanan dilakukan sebagai balasan atas penjajahan Israel yang tidak paham kecuali dengan bahasa kekuatan dan kekerasan dan tidak gentar kecuali dengan perlawanan. Karenanya, perlawanan akan terus berlanjut, pertempuran akan berlangsung terus.


Mereka menegaskan, pembebasan tanah air Palestina adalah tujuannya, perlawanan adalah sarananya, Al-Quds adalah ibukota Palestina, pengungsi Palestina keluarga mereka, kembalinya mereka ke tanah air adalah hak yang wajib, tahanan Palestina adalah pahlawan Palestina dan penerang kebebasan, pembebasan mereka menjadi prioritas mereka meski harus dibayar dengan upah yang mahal. “Itulah prinsip kami yang tidak mungkin ada tawar menawar, sebab hak tidak akan gugur dengan mengalah. Karena itulah kami bangkit dan di atasnya kami berjalan” tegas Al-Qassam.


“Allah sudah mentakdirkan Al-Qassam sebagai pemimpin peperangan dan jihad melawan Israel di Palestina. selama 22 tahun kami sudah memberikan contoh bagi gerakan perlawanan yang berpegang teguh dengan prinsip dasar”. Tegas Al-Qassam.


Al-Qassam menutup pernyataannya, Hamas sudah menerjemahkan syiarnya-syiarnya dalam kehidupan nyata dengan penuh kekuatan, kejujuran dan kesetiaan serta pengorbanan. “Hamas membawa cita-cita Al-Quds, Al-Aqsha dan Palestina. Berperang untuk kebebasan pengungsi dan tahanan, menjaga prinsip dasar bangsa Palestina dan umat, tidak mengakui eksistensi Israel sejengkal pun di Palestina, tidak pernah gentar terhadap konspirasi penjajah dan para penjahat untuk menyambut janji Allah berupa kemenangan dan kekuasaan di bumi” tutur Al-Qassam. (bn-bsyr/ip)


(read more ...)





Ruang tunggu klinik itu masih penuh pengunjung. Aku duduk di salah satu sudut bersebelahan dengan seorang wanita seusiaku. Rasa letih yang amat sangat dan linunya persendian ditingkah pula oleh pening di kepala yang semakin terasa berat. Wangi parfum dari wanita muda di sebelahku menghentak-hentak rasa mual dalam perut ini. Syukurlah namaku segera dipanggil oleh seorang perawat yang manis. Segera aku masuk ke ruang kerja dokter. Seraut wajah tegar menyambutku dengan senyum tipis. Aku pun duduk di kursi seberang meja berhadapan dengannya.

" Nyonya A ?" tanyanya. Aku mengiyakan. " Saya sudah lihat hasil laboratoriumnya , nyonya positif." Lanjutnya pula." Bagaimana dok ?" tanyaku berharap ketegasan. " Anda hamil." Disebutkannya usia kandunganku yang rupanya sedang dalam masa emesis.Oh alangkah sulitnya kuungkapkan perasaan hatiku ketika itu. Bertahun-tahun aku menantikannya.

Tuhanku, hanya sebaris kalimat syukur meluncur dari bibirku yang bergetar menahan haru. Dengan cermatnya sang dokter memeriksaku. Sedemikian telitinya hingga aku merasa begitu lama waktu merayap. Akhirnya dokter yang cekatan itu mengatakan bahwa keadaanku normal-normal saja. Begitu pula janin yang kukandung. Diberinya aku resep vitamin dan pelancar metabolisme. Aku pulang dengan rasa bahagia yang tak terkata. Hilang rasa letihku. Hilang segala rasa sakit dalam tubuhku terhapus oleh rasa bahagia menyadari hadirnya buah hati dalam rahimku.

Setiba di rumah, kutumpahkan rasa bahagiaku dalam sujud syukur di hadapan Yang Maha Tinggi.Sungguh karunia-Nya tak pernah putus-putusnya menyirami hidupku.Ilahi, kalau bukan karena Engkau tak mungkin kukenal shalat, tak mungkin kukenal hidayah dan ni’matnya beribadah kepada Engkau. Segala puji hanyalah bagi-Mu.Suamiku,Kunantikan engkau pulang dengan hati girang. Ingin kukabarkan segera berita gembira ini. Kutahu telah sekian lama kau nantikan berita ini terucap dari bibirku. Aku pun hampir tak sabar menanti.Namun hingga senja hari lewat kau belum juga kembali.

Hidangan yang telah kusiapkan mulai menjadi dingin. Kuhibur hatiku barangkali engkau sedang menghadapi banyak pekerjaan. Kusibukkan pikiranku dengan tadarus Qur’an dan wirid ma’thurat. Semoga engkau tetap dalam lindungan Allah.Menjelang Isha barulah engkau pulang. Dalam kepenatan kutangkap kilatan cahaya dari sepasang matamu yang teduh. Bersinar kemilau namun sulit untuk kutafsirkan. Lalu dengan lembut engkau minta maaf karena terlambat pulang. Ada urusan penting rupanya hingga engkau tertahan sekian lama. Buatku sendiri, melihat dirimu saja sudah cukup menenteramkan perasaanku, menghapus penantian yang terasa amat panjang. Hanya saja melihat engkau letih begitu, kuurungkan niatku untuk menyampaikan berita itu. Biarlah kutunggu hingga hilang penatmu, kunanti hingga engkau segar kembali …

Usai shalat ‘isha berjamaah, engkau mengajakku berbicara. Ketika itu fahamlah aku kilat bahagia apa yang bersinar di matamu saat kau pulang tadi. Ini adalah momen yang sangat penting dalam hidupku. Dapat kurasakan kebahagiaanmu dan akupun bahagia pula karenanya. Namun, tiba-tiba serasa ada yang menghentak dalam dadaku. Sesungguhnya apa yang kau katakan adalah ikrar dan cita-cita kita sejak lama. Tetapi saat ini aku merasakannya sebagai sesuatu yang teramat berat. Aku memerlukan segunung ketabahan dan kekuatan iman !Perasaan manusiawiku kepadamu sungguh tak dapat kugambarkan bagaimana. Meski begitu aku menyadari kecintaan kepada Allah harus kutempatkan di atas segalanya. Apa yang ada padaku saat ini bukanlah milikku.

Karunia Allah sajalah yang membuatkku dapat merasakan ni’matnya iman dan islam di sisimu. Dan kini, mestikah kutahan-tahan apa yang bukan milikku ketika Sang Pemilik memintanya ?Tetapi, haruskan kulepaskan kebahagiaan yang baru saja kurasakan ? Haruskah ???Suara gemuruh bertalu-talu seperti hendak memecahkan dadaku. Bertarung antara suara hati nuraniku melawan emosi dan nafsu. Antara keikhlasan dalam cinta kepada-Nya dan cinta manusiawiku kepada suami dan anakku yang belum lagi terlahir.Ilahi, mestikah aku kehilangan saat-saat bahagia yang tengah kugenggam dengan merelakan suamiku pergi yang entah kapan akan kembali atau bahkan tidak akan pernah kembali lagi ...?Dan anakku, ia akan menjadi yatim sebelum sempat memandang wajah ayahnya.Lalu, bagaimanakah akan kuhadapi hidup ini tanpa dirinya lagi, tanpa bimbingan dan perlindungannya ?Sanggupkah aku ???Di puncak pergulatan batin, saat itulah gelegar dahsyat menghentikan bisikan iblis dalam batinku bagai suara guntur mengatasi gemuruh hujan………..

" Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya……"" Katakanlah : jika bapak-bapakmu, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq…

"Bagai canon menghancurkan dinding konstantinopel, rontoklah bayang-bayang ego-ku. Batu karang di lautan jiwa ini luruh berkeping-keping. Aku tersadar dalam pemahaman yang segar tentang hakikat cinta.Ya Allah, wahai Kekasih, asal Engkau tidak tinggalkan aku dalam lautan cinta ini, asal Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli !Hanya keselamatan dari-Mu lebih melapangkan hati hamba-Mu ini. Aku berlindung dengan nur wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan menjamin kebaikan di dunia dan akhirat dari amarah-Mu yang akan menimpa diriku dan murka-Mu yang akan membinasakanku.

Kumohon ridha-Mu sampai kuperolehnya.Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu juga …….Ada rasa lapang di dada. Kubiarkan hawa kepasrahan mengisi paru-paru. Duka kali ini terasa begitu manis. Ada rasa sesak yang terangkat ketika malaikat membukakan pintu langit. Saat kau bertanya bagaimana pendapatku; dengan mantap kukatakan padamu :" Bukankah sejak kita menikah telah kita ikrarkan bahwa perkawinan ini adalah bagian dari perjuangan ? Telah kita tetapkan syahid di atas keingininan yang lainnya, ingatkah kau ?Kini, apakah aku akan menghalangimu untuk menggapai cita-cita kita itu ?

Tidak, bang Jundi. Karunia Allah yang diberikan kepada kita dalam Iman dan Islam jauh lebih besar ketimbang pengorbanan yang harus kita lakukan saat ini. Benar, kasihku padamu tak terhingga besarnya. Namun itu semua karena cinta kepada Allah jua. Berangkatlah, bang. Insha Allah saya akan tabah. Hanya saja tolong doakan agar saya teguh hati meniti perjalanan hidup ini hingga Allah mempertemukan kita kembali di akhirat kelak….

"Usai berkata begitu kumintakan maafmu kalau-kalau selama kita bersama terdapat sikapku yang kurang kau sukai. Engkau hadiahi aku dengan senyum penuh makna. Takjub aku akan akhlakmu. Engkau begitu memuliakanku selama ini padahal aku bukanlah orang yang pantas menerima kehormatan seperti itu. Pedih hati ini mengingat cacat-celaku, namun terobat perasaanku ketika engkau katakan bahwa engkau sangat berharap doa dariku.Malam merayap perlahan. Rembulan tersenyum lembut ketika kusibak tirai jendela kamar. Aku masih terjaga ketika engkau telah terlelap dalam letihmu setelah seharian bekerja.

Dalam hening kutatap wajahmu, kukirim sebait doa yang tumpas di kesunyian.Suamiku, sungguh kasih sayang Allah yang tak terhingga ketika mempertemukanmu kepadaku sebagai suami yang begitu bersih buatku. Ketika itu aku tengah tersaruk-saruk meninggalkan masa-masa kebodohan. Tanganku menggapai-gapai mencari pokok tempat bergantung. Ketika itulah atas takdir Allah tangan kokohmu menyambutku, membimbingku dari alam ketidakpastian ke dalam cahaya Islam yang cemerlang. Kaubawa aku dalam hidup penuh makna di bawah bimbingan rabbanimu. Kauluruskan cara berfikir, berasa dan bertindakku selaras dien yang hanif ini.Lalu kau arahkan aku agar dapat berjalan sendiri.Hidup bersamamu bukannya dalam taburan madu. Aku sering kau tinggalkan ketika tugas mewajibkanmu untuk pergi. Namun itulah cara terbaik bagiku. Dengan begitu sandaranku kepada Allah menjadi lebih kokoh. Dan kini kau akan meninggalkanku untuk cita-cita tertinggimu. Firasatku mengatakan kau tak akan kembali ….

Sesaat aku teringat anak kita. Ah anak kita. Aku belum sempat lagi mengabarkannya kepadamu. Semoga ia mewarisi sifat baikmu. Apakah yang harus kuperbuat kini ?Dalam doa yang kudus kumohon pertolongan dari-Nya. Kuhapus air mata yang menetes agar tak sempat terlihat olehmu.

Namun, ikatan batin kita demikian kuatnya, melampaui dimensi ruang dan waktu, mengatasi mimpi indah yang mengabarkan suara hati dari lubuk jantung yang paling dalam.Tiba-tiba saja engkau terjaga dari lelapmu. " Adakah yang ingin dinda katakan ?" suaramu lirih seperti desir angin menyibak padang ilalang.Mestikah kukatakan kepadamu tentang si kecil yang denyut kehidupannya mulai berlagu dalam rahimku ?Wahai suamiku, bukan aku ragu akan keteguhanmu bila mendengar kabar ini sebab aku percaya engkau seorang yang istiqamah. Hanya saja aku ingin menutup serapat mungkin pintu fitnah yang dapat kutimbulkan terhadapmu dariku dan anak kita …..

Tetapi dapatkah kusembunyikan hal ini darimu ? Apakah keterjagaanmu merupakan isyarat dari Allah? Dan bukankah inipun merupakan satu bentuk ujian dari-Nya ?Kudekati dirimu. " Bang Jundi." Panggilku. " Janganlah apa yang akan saya sampaikan ini menjadikan penghalang dari langkah yang telah abang putuskan."Engkau tersenyum tanpa mengurangi perhatianmu akan kata-kataku." Insha Allah sepeninggal abang nanti saya tidak akan merasa sendirian….sebab senantiasa ada Allah dan… ada jundi kecil yang akan saya jaga sebaik-baiknya …" kataku. Hening sesaat. Sejenak kulihat kau tertegun. Aku mengerti perasaanmu. Bukankah sudah lama kau nantikan hadirnya buah cinta kita ?" Abang,…" sambungku ," bukannya saya sangsi akan keteguhan hati abang, tapi karena saya tidak ingin isteri dan anakmu ini menjadi fitnah bagi tekad suci kita. Abang tak boleh surut melangkah. Jangan abang risau karena masih ada saya yang akan membesarkan anak kita …dan ada Allah yang akan melindungi kami selalu….." Aku berusaha untuk tetap tegar.

Kusingkirkan jauh-jauh perasaan iba-kewanitaanku yang kutahu menjadi titik lemahku.Kau rengkuh aku penuh kasih sayang. " Dinda," ujarmu, " engkau adalah sebaik-baik ni’mat yang Allah anugerahkan pada ku….."Ah suaramu itu begitu sejuk seperti percik air surga. Ada rasa damai di hati.Ada rasa hangat menyelinap di relung-relung jiwa …..Tengah malam belum lagi lewat ketika kita berdua sama-sama bersujud menghadapkan wajah dan hati kita kepada Allah. Semburat nur Ilahi serasa meliputi kita berdua.Suamiku, tidak lama setelah itu engkau benar-benar berangkat….menuju bumi jihad.Ambon manise hingga kini masih menangis. Bumi Aceh sudah lama merintih. Belum lagi lagu lama di Palestina, Bosnia, Kosovo, Moro, Azerbaijan, Chechnya dan belahan bumi lainnya yang menjerit ditikam pisau kezaliman.Berangkatlah, kekasih. Jangan biarkan serdadu thaghut itu merobek jantung orang-orang yang lemah dan anak-anak yang tak berdosa. Bila teringat anak kita, ingat-ingatlah bahwa di sana lebih banyak lagi anak-anak yang terpaksa lahir sebelum waktunya. Dahsyatnya perang membuat mereka harus cepat dilahirkan…….

Sementara itu usia anak kita makin bertambah jua. Gelinjang halus bagai semangat yang menyelinap ke seluruh sel tubuhku.Mulai terasa ia bergerak dan menendang-nendang dengan gagahnya seperti kau… yang dengan gagahnya menyerbu musuh di medan-medan pertempuran.Allahu Akbar !Suamiku, rinduku padamu bukanlah keinginan untuk bermesra dan memadu kasih, tapi …aku rindukan suasana beribadah bersamamu. Ingin shalat di belakangmu, ingin mencium tanganmu , meminta maaf dan berdiskusi denganmu sebab setiap kata yang terucap dari bibirmu adalah tarbiyah bagiku dan memberiku kekuatan ketika aku kau tinggalkan…

Bila rindu datang mengganggu, kubuka kembali buku-bukumu. Terhibur hati ini. Kurasakan seolah-olah kau hadir di sisiku. Namun terkadang bisikan yang tak kuingini datang juga. Betapa pintarnya syetan mencari jalan untuk melemahkanku. Teringat aku akan kata-katamu bahwa cinta Allah mengatasi segalanya. Akupun bermunajat kepada Allah agar diberi kekuatan dan ketabahan dan semoga Ia mengampuniku.Bang Jundi, tujuh bulan usia anak kita dalam rahimku ketika suatu malam aku bermimpi berjumpa denganmu. Kau nampak sangat elok dan bercahaya. Kulihat rembulan di atasmu, kupandang bergantian antara kau dan rembulan namun kau nampak lebih indah…… bahkan bintang-bintang pun tak dapat menandingi parasmu.

Aku terjaga. Hilang segala sedih dari hatiku. Sejuk perasaanku. Aku pun bersujud memohon barakah Allah atasmu.Esok harinya seisi rumah kita nampak bercahaya kemilau. Benderang luar biasa. Semerbak wangi membuatku terheran-heran. Wanginya…sulit untuk kukatakan. Belum pernah kucium wangi seharum ini.Sahabat-sahabatku di jalan Allah yang berta’lim di rumah kita ribut saling bertanya satu sama lain. Tiada seorangpun di antara kami yang memakai parfum !Baru kudapat jawabnya ketika Ayah dan seorang sahabatmu berta’ziah ke rumah. Ya, engkau sudah berada di tempat yang jauh …….Tidak, kekasih. Tidak patah semangatku dengan kepergianmu. Aku tahu engkau telah menepati janji.Engkau tidak mati! Engkau tetap hidup!!!!!

" Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang-orang yang gugur di jalan Allah,mati ; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya …."" Di antara orang-orang mu’min itu ada para rijal yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur ada pula yang menanti-nanti (giliran) dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya." Selamat jalan, bang Jundi. Nantikan aku di sana. Kepergianmu adalah satu kepastian. Kini, ujian dan derita yang mesti kuhadapi tidak lagi kurasakan sebagai luka namun bagai angin sejuk yang menyegarkan semangat juangku. Hari-hari berlalu dalam deru semangat yang tak pernah pupus. Saat kelahiran anak kita kian dekat. Nyeri yang hebat mulai melilit-lilit dalam perutku. Aku tak bisa lagi berjalan. Hari itu kubaca surah Yusuf, surah Maryam, surah Luqman dan surah Muhammad berulang-ulang. Kuhadiahkan buat anak kita yang bakal lahir. Tak jadi soal laki-laki atau perempuan. Yang terpenting ia berakhlak mulia dan menjadi anak yang shalih yang bakal menyambung tugas para nabi, menyebarkan syi’ar Islam di muka bumi ini.

Ya Allah, tabahkan hatiku. Semoga dosaku akan turut terhapus dengan lahirnya anak dalam kandunganku ini ……………….Ketika saatnya tiba, sahabat-sahabat kita yang tulus membawaku ke rumah sakit. Jerit si buyung yang lahir memecah jagat raya….pekik tangisnya menghapus segala rasa sakitku. AlhamduliLlah dia selamat. Dia tampan dan gagah sepertimu…..…dia rijal sepertimu.Saat kutatap anak kita, hatiku tiba-tiba rawan. Sanggupkah aku menjadi ibu yang baik ???Akupun berbisik padanya ," Wahai ananda, janganlah kau ikuti sifat ibumu yang buruk. Milikilah sifat yang terpuji. Engkau adalah harta yang paling berharga….." Kucium ia penuh kasih disaat tangis pertamanya memecah bumi.Kunamai anak kita dengan nama yang pernah kau sebut dulu. Semoga Allah mengabulkan doa dalam nama yang indah itu. Suamiku,Satu langkah telah kutempuh. Beribu-ribu langkah lagi membentang di hadapanku. Badai gelombang yang garang harus kuhadapi. onak dan duri yang terserak sepanjang perjalanan harus kulewati. Angin puting beliung pun harus kulampaui. Berat memang. Apalagi kuharus melangkah tanpamu. Namun kuyakin Allah senantiasa melindungiku.

Aku tahu cinta dan nafas perjuanganmu senantiasa mengisi hatiku. Ada rasa bangga mengenang dirimu.Dengan ‘izzah inilah kan kubesarkan buah hati kita.Kekasihku, Satu lagi janji harus kupenuhi. Aku ingin menghantarkan anak kita agar dapat menyusulmu. Kuingin ia pun sampai ke gerbang kecintaan-Nya. Aku akan tetap melangkah. Selangkah demi selangkah aku menapak. Satu langkah lagi. Ya satu langkah lagi!

( Bumi Allah yang jauh di seberang. Mengenang gugurnya seorang sahabat,
sepuluh tahun silam.Akhi, bagaimana rasanya berjumpa Allah ?
Salam rindu dari sini. )

Wassalamu’alaikum wr.wb.

(read more ...)



Tepat PK.00.00 WIB
Mata teduh laki-laki itu masih terjaga
Apa gerangan yang dia lakukan???
Laki-laki itu tampak sibuk menyiapkan peralatan
Tambang, belati, senapan kecil, beberapa pakaian
Dia masukkan dalam ransel merah bergaris hitam
Dia berdiri
Mata teduhnya mengitari kamar yang sebentar lagi akan dia tinggalkan
Oooo....dia ternyata sedang berfikir
Apa gerangan bekal yang tertinggal
Tangan kukuhnya mengambil sebuah kotak berwarna biru tua berhias pita biru bercorak silver
Dia membukanya
Sebuah al-qur’an kecil bersampul merah marun
Dia mengecup al-qur’an itu sambil memejamkan matanya
Namun tiba-tiba mata itu mengeluarkan cairan bening hingga membasahi mushaf mungil yang masih menempel dibibirnya
Entah apa yang dia pikirkan
Namun...bibirnya bergerak mengucap sesuatu
Mungkin sebuah do’a tulus
Punggungnya berguncang beberapa saat
Berkelebat memory beberapa tahun lalu
Seseorang yang memberikan mushaf kecil merah marun itu
Sosok itu berkata padanya melalui sepucuk surat bersampul putih
“ Akhi…saat ini aku belum bisa menemani perjalanan hidupmu, oleh karena itu, izinkanlah mushaf usang ini menjadi salah satu bekalmu ketika Rabb kita memilih jiwamu untuk menjadi tentaraNYA. Ku harap mushaf ini menjadi saksi kesyahidan mujahidiin di negeri terjajah sana. Jika kau bertemu Rabb kita katakana padaNYA ‘Jadikan aku sebagai tentaraNYA pula, meski aku seorang hawa’. Akhi…bergembiralah karena ada makhluk langit terindah yang sedang menunggumu, menunggu kehadiranmu. Makhluk yang Rabb kita sediakan untuk orang-orang yang berjuang untuk dien ini, dialah HURUN’INmu”.
Sekali lagi punggungnya berguncang
Namun bibir itu tersenyum
Karena sebentar lagi citanya akan tercapai
Apa yang dikatakan sosok itu akan tergapai
Janji kepada Rabbnya akan tertunaikan
Gumamnya “mana ada orang tua yang menikahkan putrinya dengan pemuda yang berusia pendek”
Hal ini memang sering terjadi seperti di Palestian sana.
Kemudian …
Kepalanya tertunduk
Teringat sosok lembut yang selama ini mengasuhnya,
Beberapa hari lalu
melalui saluran seluler
Sosok lembut itu tersedu
Berharap permata hatinya mengurungkan niatnya
“Oohh Bunda...ini adalah perpisahan sementara, permata hatimu menginginkan perjumpaan yang kekal, tiada kehidupan yang kekal selain disyurgaNYA. Sungguh kita tidak akan berpisah untuk selamanya, percayalah”
Lain dengan sosok perkasa selain dirinya dirumahnya
Yang menjadi teman sejawatnya
“ Berangkatlah nak...jangan pedulikan kami, Ayah yakin Tuhan kita akan meridhaimu. Jadilah pejuang islam yang akan memenangkan dien ini”
Juga...saudara-saudaranya....
Berharap yang sama seperti sosok lembut itu
Saudaranya yang dikasihinya
Yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya
Yang selama ini dia topang
Dia menjadi tulang punggung keluarganya

Hingga pukul 01.00 dini hari
Mata teduhnya belum juga terpejam
Hati putihnya berucap takbir, hamdalah dan tahlil
Menunggu shahabat perjuangnya menjemputnya
“Wahai saudaraku tunggulah kedatanganku, kita harum kan tubuh kita dengan keringat dan peluh jihad menempel disekujur tubuh. Kita selamatkan dunia ini dengan senjata.Ini adalah pengorbanan tertinggi kita, ini adalah perniagaan yang menguntungkan. Berjuanglah hingga badan dan kepala terpisah. Tunggulah para Syuhada dan Anbiya inshaAllah kita akan berjumpa, dan izinkanlah aku melihat wajah MU wahai kekasih ku”

Pukul 03.00 WIB
Dari luar terdengar ketukan pintu
Laki-laki bermata teduh itu bangkit dan menyambut tamu itu
Ternyata itulah yang ditunggu-tunggu dirinya
5 orang laki-laki gagah yang merupakan sahabat seperjuangannya
Mereka berpelukan
Katanya”mari kita berangkat”

Wahai sahabat.....laki-laki bermata teduh itu telah pergi
Menyambut seruan Rabbnya
Cita-cita yang selama ini
Dia impikan telah tercapai
Dia memenuhi seruan saudaranya yang terluka dan terhina
Dia akan mengembalikan izzah kaum muslimin di negeri Baghdad
Sungguh I’dad yang selama ini dia lakukan bersama shahabatnya tidaklah sia-sia
Rabbnya telah memenuhi janjinya

Sehari sebelum keberangkatannya
dia layangkan sepucuk surat pada sosok yang membekali dirinya dengan al-quran bersampul merah marun itu
Katanya “ Ke Baghdad aku meminang bidadari, ku harap kau berada diantaranya”

Selamat berjuang wahai saudaraku....
Ridha Tuhanmu menyertaimu
Kutunggu berita kesyahidanmu.
Allaahuakbar yaa Rijal!!!!
(read more ...)



Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.

Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.

Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.

Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.



Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.



Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:

“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.



“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.



Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.



“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.



“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”



Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”



Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”



Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.



Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.

Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”



Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”



***



Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhi…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.



***



Senja datang

Angin mendesau, sepi…

Pasir-pasir beterbangan…

Berputar-putar…



Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

Tanpa dimandikan…

Tanpa dikafankan…



Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.

Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.

Para sahabat terdiam membisu.

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau

Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.

Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.



Akhirnya keadaan kembali seperti semula.

Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”

Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”



“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.

” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.



“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.



“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”



***

Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.



Malam menjelang…

Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.

Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “

Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.



Istri Zulebid, terdiam.

Matanya basah…

Ada sesuatu yang menggenang disana..

Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..

Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..

Ia menggerakkan bibirnya..

“Suamiku, aku mencintaimu…

Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..

Aku ikhlas….



*******



(read more ...)



Sumayyah, syahidah pertama itu harus rela membiarkan tubuhnya jatuh bersimbah darah dihujam tombak majikannya. Hal itu karena keteguhannya bertahan dalam keyakinan mengEasakan Allah SWT. Lafaz lirih Ahad, Ahad dari bibirnya telah mengantarkan nama Sumayya ke dalam daftar para syahidah.



Tidak hanya Ibu miskin itu, anaknya Amar dan suaminya Yasir juga mengalami hal yang serupa, mereka semua mati dan merengkuh gelar sebagai syuhada dalam penyiksaan majikan mereka karena beristiqomah menjadi pengikut Muhammad SAW. Dalam pelukan tauhid, mereka mati dengan tubuh bersimbah darah di tiang gantungan bersama hujaman tombak.



Hamzah yang digelari Bapak para syuhada juga mati terbunuh di perang uhud. Kegagahannya membela agama Allah dan membantu perjuangan Rasulullah SAW telah mengantarkannya ke singgasana kemuliaan untuk menebus syurga, setelah lontaran tombak seorang budak menembus dadanya.



Heroisme seorang Hamzah tidak diragukan lagi. Ayunan pedangnya tidak akan kurang mematikan seratus musuh di setiap pertempuran. Pembelaannya terhadap rasulullah Nampak jelas, baik dalam peperangan maupun di luar medan tempur mana kala kaum kuraisy mengancam Rasulullah. “Barangsiapa yang berani mengganggu Muhammad, maka mereka akan berhadapan dengan Hamzah bin Abdul Muthalib.”



Hamzah pun akhirnya mati dalam peperangan menegakkan agama Allah. Ketika kematiannya di medan Uhud, Hindun mengoyak-ngoyak dada dan perutnya, mengeluarkan jantung dan isi perutnya kemudian menyayat-nyayat dan mengunyah-ngunyah jantung itu sebagai perayaan dendamnya yang telah terbalaskan kala itu.



Thalhah di medan Hunain menukilkan kisah yang tak kalah monumental. Pengorbanan untuk Allah, Rasul dan agamaNya dibuktikannya dengan kegigihan mengorbankan segenap yang dia punya demi tetap tegak dan berkibarnya panji Islamiyah. Saat panji Islam sempat terjatuh di tengah berkecamuknya perang Hunain, Thalhahlah yang menegakkannya.



Di sini, yang menarik bukanlah siapa yang menegakkan panji itu, tetapi perjuangan menegakkan panji itulah yang patut dicatat generasi-geerasi pembelajar. Thalhah menegakkan panji itu di sela ayunan pedang dan hujanan anak panah para kuffar yang tek henti menyerang. Bahkan, tat kala kedua tangannya putus tertebas pedang, belasan anak panah menghujami punggungnya, Thalhah terus memeluk dan mendekap erat panji itu sehingga tetap berdiri hingga pertempuran berakhir. Thalhah pun menggapai citanya sebagai syuhada dengan menjadi pancang panji itu.



Di era yang lebih dekat, DR. Abdullah Azzam, Syaikh Ahmad Yasin, DR. Abdul Aziz Al Rantisi di Palestina, tubuh mereka semua hancur lebur dihantam bom dan rudal para yahudi laknatulloh. Sungguh demikian, mereka telah menemui janji Tuhan, dan mereka telah mencapai cita-cita tertinggi mereka, hidup dalam kemuliaan dan mati dalam kesyahidan. Para bidadari syurga telah menyambut mereka dengan rekahan senyum yang tiada tara.







Sayyaf dan Khattab di Checia juga telah menunaikan tugasnya dan membuktikan komitmennya menjemput janji Allah. Mereka mendaftar sebagai mujahid Allah dan berjuang di medan perang. Kesyahidan pun menutup hayat mereka.



Melalui mereka itulah Allah perlihatkan langsung kepada kita daftar diantara para syuhada yang dirindukan syurga. Ya, mereka masuk ke dalam daftar syuhada’nya Allah. Nama-nama mereka terukir indah dengan tinta emas bertuliskan Syuhada. Tulisan sebuah gelar untuk sebuah kematian yang tidak ada bandingan kemuliaannya sepanjang masa. Sebuah sebutan yang akan membuat telinga penghuni syurga bergemuruh riang mendengar kabar kedatangannya.



Kini semua mereka telah tiada. Mungkin dari mereka tak ada lagi yang tersisa, kecuali aroma syurga yang barangkali sudah menyengat-nyengat “hidung” mereka.



Rasulullah SAW berpesan, “Sungguh seseorang itu akan mati dalam keadaan jahiliyah, apabila di hatinya tidak pernah terniat untuk berjihad di jalan Allah..”



Allah, Rasulnya tentu juga memiliki daftar para syuhada. Allah tentu memiliki daftar orang-orang yang akan memasuki syurga melalui jalan khusus. Rasulullah juga memiliki daftar para syuhada yang akan otomatis masuk dalam barisan panjangnya di yaumil mahsyar. Dan para syuhada terdahulu itu, tentu juga akan memiliki daftar orang-orang yang akan bersama dan sebarisan dengannya di padang mahsyar., baik syuhada yang dahulunya ataupun syuhada sebelumnya.



Kita tentu berharap dengan segala kesungguhan dan ketulusan niat kita, agar kita bisa menuntun jiwa dan raga kita untuk mendaftar sebagai Mujahid. Sehingga kita juga masuk dalam daftar mujahid dan jika terbunuh juga masuk dalam daftar syuhadanya Allah, Rasulullah dan daftar sesama syuhada’ para syuhada. Karena kini kita ada, setidaknya kita masuk dalam daftar syuhada’ yang sebelum mereka.



Ya Hamzah, ya Thalhah. Wahai Sumayyah. Ya Abdullah Azzam, ya Syekh Ahmad Yasin, masukkan kami dalam daftarmu!



(read more ...)



Wahai hamba Allah



Perkenalkanlah kami para mujahid yang berbai’at pada Muhammad untuk berjihad selagi nyawa masih dijasad. Kamilah yang tidak punya pilihan ketiga hanya kemenangan mulia atau menyandang syuhada. Kami yang menjual harta dan jiwa pada Allah pembelinya, hanya syurga harga janji-Nya. Kami bercita tak pernah mati, karena Ia telah berjanji jangan kira syuhada itu mati, tetapi hidup disisi Robb-Nya penuh rizqi dan abdi





Wahai orang-orang yang terlena



Kenalkah kalian denganku ? Ya akulah sang pembebas Al-Aqsho, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang panglima perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang panglima yang selalu menjaga sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alquran yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah yang kutunggu. Saat aku bercengkerama dengan Robbku. Sedang siangku adalah perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya. Bagaimana denganmu ? Masihkah kalian melalaikan sholat berjama’ah ? Atau waktu malammu kau habiskan untuk kepuasanmu ?





Wahai orang-orang



Kau pasti pernah mendengarku sang ulama mujahid pembangkit jihad palestina. Aku adalah Izzuddin Al-Qossam.Waktu mudaku adalah pembangkit semangatku dalam mencari ilmu dan berjihad. Kajian-kajian revolusioner yang mengajarkanku akan arti pembebasan, selalu kuikuti walau pemerintah selalu memburu. Tiba saatnya mengangkat senjata. Semangatku dalam meraih pembebasan, adalah azzam yang tak pernah padam untuk berjihad. Sampailah ketika diriku syahid. Hingga kafir mengira diriku telah mati. Percayalah bahwa diriku belum mati, karena kini aku telah menjelma menjadi sekelompok ksatria yang mewarisi semangatku. Brigade Syahid Izzuddin Al-Qossam





Wahai orang-orang yang tak pernah bersyukur



Aku Syekh Ahmad Yassin, lelaki tua pemimpin HAMAS pada masa ku. Tak malukah kalian denganku, lelaki tua lumpuh yang telah uzur ? Ragaku memang tua, tapi semangatku terus menyala. Dengan kursi roda, aku mengguncang dunia. Akulah penggerak perjuangan HAMAS. Rinduku disepertiga malam terakhir adalah yang kunanti. Sholat shubuh berjama’ah di masjid adalah keseharianku. Ingatkah kalian di shubuh terakhirku ? Disaat rudal menghadang lajuku yang renta ini? Sampai aku menghadap Robb-ku dengan senyum berbekas di wajahku? Masihkah kalian tidak bergeming, walau jasad kalian tidak sepertiku?





Lain halnya denganku Akram Shidqy Athrasy. Kebutaan pada mataku tak pernah meluluh lantakkanku untuk berjihad. Mata hatiku selalu mengahatarkan jiwaku dalam menempuh syurga. Masikah kalian tak bersyukur, dengan raga kalian yang tidak sepertiku ?







Wahai orang-orang yang terbuai



Pernahkah kalian mendengar jasad yang telah hancur namun masih ditakuti tentara zionis? Itulah jasadku, Imad Aqil. Akulah sang pemimpin pasukan elit Unit Syuhada Al-Aqsho dalam brigade Izzuddin Al-Qossam. Kelihaianku adalah menyelinap pertahanan zionis yang terkenal ketat itu. Sampai aku menjadi salah satu incaran buronan zionis. Suatu hari keberadaanku terkuak zionis. Dengan ratusan tentara, puluhan panser, 60 bom, dan beberapa helikopter, mereka mengepungku. Ya, hari itu adalah hari terakhirku berpuasa. Dengan takbir, rentetan senjata api menyambut tubuhku. Sebuah meriam tank akhirnya meluluhlantakkan tubuhku, mengantarkanku menemui Robb-ku.





Wahai orang-orang



Akulah Al-muhandis dari rafat, Yahya Ayyash namaku. Posterku ditempel diseluruh bumi jajahan zionis. Dengan keahlianku, kubuat segala kesederhanaan dan keterbatasan menjadi suatu kepastian nan brilian. Bom rakitanku kerap kali tak dapat terdeteksi. Ya, jadilah aku sang buronan no. 1 zionis. Tibalah pada pengkhianatan seorang kerabatku, yang menghantarkanku menuju Robb-ku. Kematianku diumumkan dibumi zionis dengan gegap gempita. Seolah mereka telah lepas dari ketakutan. Sayang mereka tidak menyadari. Karena dibelakangku telah lahir ayyash-ayyash baru dengan secercah cahaya harapan.





Wahai para pemuda



Ketahuilah aku tidak seperti mu !! Akulah singa muda brigade Izzuddin Al-Qossam, Muhammad Fathi Farhat. Kenalkah kalian denganku ? Aku tidak sepertimu yang selalu mengahabiskan waktu mudamu untuk bersenang-senang atau bahkan menjajakan diri gaya hidup dan style para zionis. Aku tumbuh di bumi jihad Palestina. Umurku tidak lebih dari 18 tahun, tapi ku wakafkan jiwaku untuk Allah ! Tak sadarkah kalian para pemuda, padahal Allah menjanjikan syurga-Nya untukmu ?





Aku pun tak sepertimu duhai para aktivis !! Sudah sejauh apa da’wahmu untuk ummat sampai-sampai dirimu melupakan keluargamu ? Tak ingatkah kalian disela-sela ku berjihad. ku selalu meluangkan waktu untuk ibuku ? Masih ingatkah kalian di hari kesyahidanku ? Kujemput syahidku ketika sebelumnya ku bercengkrama, jalan-jalan, pamit bahkan mengecup ibuku. Tak tergerakkah hatimu? Pedulikah dirimu dengan keluargamu?





Atas nama Palestina kami kan terus berjuang



Atas nama iman kami kan terus terdepan



Atas nama Al-Aqsho kami kan terus berjanji



Atas nama para syuhada jiwa ini tak akan pernah gentar



Atas nama Allah jiwa ini kan terus mengabdi






(read more ...)