Profile

Tag








Sampai hari ini tidak pernah berhenti pemerintah Mesir dari memenjarakan kader dan tokoh-tokoh Ikhwan. Mereka mengalami penyiksaan yang tiada bandingannya. Penyiksaan yang sangat kejam, dan terus berlangsung, tanpa pernah berhenti. Rejim yang berkuasa di Mesir terus mengirimkan kader dan tokoh-tokoh Ikhwan ke penjara-penjara militer. Tujuannya yang berkuasa di Mesir, menginginkan agar Ikhwan berhenti menjalankan misi dakwahnya.


Berhentikah misi dakwah Ikhwan? Tidak pernah. Mereka terus mengajarkan dan mendidik masyarakat untuk memahami, menerima, menyakini, dan mengamalkan Islam. Hampir seluruh pemimpin Ikhwan, mereka paling sedikit pernah dipenjara selama 20 tahun. Tapi kehidupan itu dijalani dengan penuh kesabaran dan tawakal. Mereka tetap kokoh dengan cita-citanya. Tidak lantas mau menggadaikan keyakinan dan menukar dengan hanya setitik kenikmatan dunia, berupa kekuasaan.



Hasan Al-Banna, meninggal ditembak di jalan, dan ketika dibawa ke rumah sakit, tak ada dokter yang menolongnya. Saat dibawa ke kuburan tak diizinkan pengikutnya mengantarkan jenazahnya, kecuali keluarganya, anak dan isterinya. Selebihnya, penggantinya seperti Hasan Hudaibi, Umar Tilminasi, Hamid Abu Nashr, Mustafa Masyhur, Ma’mun Hudaibi, Mahdi Akif, dan sekarang Muhammad Badie, mereka yang terpilih sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwan itu, pernah menjalani kehidupan di penjara dalam kurun waktu yang panjang.


Tak sedikit para tokoh Ikhwan itu, yang mengakhiri kehidupannya dengan keyakinan yang teguh, dan menerima dengan penuh keikhlasan, karena itu menjadi cita-cita tertinggi mereka, yaitu ‘al mautu fi sabilillah asma amanina’ (mati syahid adalah cita-cita tertinggi kami). Mereka telah membuktikan dengan tulus. Sayyid Qutb, di saat berada ditiang gantungan, sebelum hukuman itu, dilaksanakannya, dibisiki oleh pejabat Mesir, agar Qutb mau bersama-sama dengan Gamal Abdul Nasr, tapi orang kedua sesudah Hasan al-Banna, di bidang pemikiran itu, memilih digantung. “Aku tak akan pernah menukar keyakinanku dengan apapun”, ucapnya sebelum digantung.



Banyak tokoh Ikhwan, seperti al-Qardhawi, Sayyid Qutb, Yusuf Hawasy, Abdul Fatah Ismail, Muhammad Firgali, Yusuf Thala’at, Handawi Duwair, Ibrahim Thayib, Muhammad Abdul Latif, Ali Audah, dan lainnya, mereka bisa hidup dimanapun dengan penuh lapang. Tak ada yang syak atas janji Allah Azza Wa Jalla. Maka, mereka dapat menerima kondisi apapun yang mereka hadapi, termasuk pahitnya penjara militer Liman Turoh, yang penuh dengan kekajaman itu. Mereka dicambuki, diadu dengan anjing yang besar, digantung dengan hanya satu kaki, berbagai penyiksaan lainnya, tak membuat mereka bergeming dengan ‘ghoyah’ (tujuan) yang hendak mereka wujudkan, yaitu kehidupan akhirat yang penuh kemuliaan, dan mendapatkan ridho dari Allah Azza Wa Jalla.


Mengapa para kader dan tokoh-tokoh Ikhwan mampu tetap bertahan dalam kehidupan yang amat sulit itu? Tak lain, karena mereka  telah menjadikan Al-Qur’an sebagai belahan hati, pelita cahaya dalam kesedihan mereka. Mereka tak pernah lepas dengan al-Qur’an. Hampir setiap kader dan tokoh Ikhwan telah menjadikan Al-Qur’an wirid harian mereka. Mereka selalu membaca al-Qur’an. Mereka menghafal al-Qur’an, mempelajari isinya, dan terus berusaha memahami artinya. Luar biasa. Tak ada sel yang sepi dari bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dilakukan para ikhwan di dalam sel. Mereka umumnya menguasai pembacaan al-Qur’an dengan baik, dan mengetahui hukum tajwid.


Mereka juga mendekatkan diri pada Allah dengan membuat halaqah al-Qur’an dan mengajarkan ilmu al-Qur’an yang mereka miliki. Maka, para kader dan tokoh Ikhwan, yang berada dipenjara, ketika pagi, sore dan malam, mirip suara lebah, dan menggetarkan hati. Al-Qur’an membimbing mereka menjadi pribadi yang tangguh dan kokoh, menghadapi segala cuaca dan badai kehidupan, dan tidak pernah bergeser, seincipun dari prinsip-prinsip (mabda’), yang menjadi dasar perjuangan mereka.


Sampai saatnya datang para penguasa itu, tidak suka melihat para Ikhwan yang ada dipenjara militer itu, bisa menikmati hidup dengan al-Qur’an. Bahagia bersama degan al-Qur’an. Seperti dikatakan Sayyid Qutb, yang pernah dipenjara di Liman Turoh, yang mengatakan, ‘Betapa nikmatnya hidup dibawah al-Qur’an’, ucapnya. Lalu, penguasa itu dengan geramnya, masuk ke sel-sel, dan memerintahkan para Ikhwan merampas semua mush’af al-Qur’an, kemudian mush’af al-Qur’an itu di kumpulkan dan bakar.`


Betapapun, mereka yang melihat dengan peristiwa itu, bertambah kuat keyakinannya, dan semakin semangat menegakkan cita-citanya, sampai hari ini, tanpa mau berkompromi dengan kebathilan,walau seincipun. Mereka tetap hidup dengan al-Qur’an dan Sunnahnya. Wallahu’alam. (mashadi/berbagai sumber)



(read more ...)





Berdiri di atas meja kantin di bawah kota Tel Aviv, mempelajari pria dan wanita dari Mossad:



Dalam beberapa minggu sejak mengambil alih Mossad, Meir Dagan tahu dia sudah memerintahkan sesuatu pendahulunya baru-baru ini tidak pernah berhasil.



Nyaris meninggikan suaranya ia berbicara.



"Ketika saya sedang bertempur di Lebanon, saya menyaksikan setelah pertengkaran keluarga. Patriark: kepala yang telah terbelah dan otaknya di lantai. Dia berbaring bersama istrinya dan beberapa anak-anaknya. Semua sudah mati. Sebelum aku bisa melakukan apa pun , salah satu pembunuh meraup segenggam otak dan menelannya. Ini adalah bagaimana Anda akan semuanya sekarang beroperasi. Jika tidak, seseorang akan memakan otak Anda. "



Di kantin adalah mereka yang telah membunuh berkali-kali. Membunuh musuh yang tidak dapat dibawa ke pengadilan karena mereka tersembunyi jauh di dalam Israel dan Arab.



Hanya Mossad bisa menemukan dan membunuh mereka. Rafi Eitan, yang legendaris mantan Kepala Operasi Mossad mengatakan kepada ketika kami duduk bersama di ruang tamunya di Tel Aviv utara pinggiran kota:



"Saya selalu berusaha untuk membunuh ketika aku bisa melihat bagian putih mata seseorang. Jadi aku bisa melihat rasa takut. Penciuman itu napasnya. Kadang-kadang saya menggunakan tangan saya. Sebuah pisau, atau pistol dibungkam. Aku tidak pernah merasa menyesal sesaat atas pembunuhan. "



Ketika Meir Amit menjabat sebagai direktur Mossad, bersikeras "kita seperti algojo resmi atau dokter on Death Row yang mengelola suntikan mematikan. Tindakan kami didukung oleh Negara Israel. Ketika Mossad membunuh itu tidak melanggar hukum. Ini adalah kalimat yang disetujui oleh perdana menteri ".



Kami berbicara saat berjalan melalui ruang Mossad yang unik di Tel Aviv terdapat peringatan kepada orang mati - berbentuk labirin yang beton dalam bentuk otak. Setiap nama terukir pada beton adalah seorang agen yang telah tewas ketika mencoba untuk menghancurkan musuh-musuh Israel.



Beberapa dari mereka agen memiliki satu kesamaan. Amit telah mengirim mereka kepada kematian mereka.



"Kami melakukan semua yang kami bisa untuk melindungi mereka. Kami melatih mereka dengan lebih baik dari dinas rahasia lainnya. Setiap misi, dadu adalah melawan Anda. Tapi akan selalu ada orang-orang pemberani siap untuk melempar dadu," katanya.



Dagan, para pendengarnya di kantin, berperan dalam cetakan yang sama. Dia akan melindungi mereka dengan segala cara. Dirinya tahu - legal maupun ilegal. Dia akan memungkinkan mereka untuk menggunakan racun saraf. Cara membunuh yang ideal, bahkan Mafia, bekas KGB atau dinas rahasia Cina tidak digunakan. Tapi dia tidak akan ragu untuk mengekspos mereka sampai mati - apakah itu untuk kebaikan yang lebih besar untuk Israel.



Hal itu adalah kesepakatan di kantin: mereka telah menerima ketika mereka direkrut. Mereka juga, sudah siap untuk melempar dadu.



Dagan, hanya pria kesepuluh kepala Mossad dan menanggung gelar memune - "pertama di antara yang sederajat dalam bahasa Ibrani" - mengingatkan para pendengar duduk di kursi plastik. Lalu Dagan menambahkan:



"Saya di sini untuk memberitahu Anda hari-hari itu kembali. Dadu siap untuk roll."



Dagan melompat turun dari meja dan berjalan keluar dari kantin dalam keheningan. Hanya kemudian melakukan tepuk tangan.



Tak lama kemudian terdengar pembantaian Mombasa. Sarat bahan peledak tanah-cruiser mobil memasuki area penerimaan pulau milik Israel Paradise Hotel.



Lima belas orang tewas dan 80 luka berat. Dua bahu-menembakkan rudal hampir menenggak sebuah pesawat penumpang Israel membawa turis kembali ke Tel Aviv dari Kenya. Dua ratus tujuh puluh lima nyaris kehilangan gaya Lockerbie kematian.



Meir Dagan segera menduga itu adalah karya-Osama bin Laden bersama al-Qaeda dan bahwa rudal itu berasal dari gudang senjata Irak.



Tetapi untuk tersangka dan membuktikan akan menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Mossad sejak Perang terhadap Terorisme diluncurkan oleh Presiden Bush.



"Mossad tidak akan beroperasi di kampung halamannya sendiri melawan pembom bunuh diri. Ini akan bekerja 1.500 mil jauhnya di lingkungan yang tidak bersahabat. Hanya akan menjadi lip-service dukungan dari pihak yang berwenang. Intelijen lain akan trawl melalui bukti mencari petunjuk yang akan cocok dengan agenda mereka. CIA untuk memperbaiki bin-Laden. MI6 untuk mengarah ke ancaman ke Britania. Hal yang sama bagi Jerman, "pria intelijen senior di Tel Aviv.



Tapi untuk Meir Dagan sudah saatnya untuk melempar dadu. Setiap orang dengan pengalaman lapangan terbukti berada di pesawat ke Kenya dalam waktu satu jam dari pembantaian.



Mereka akan menyaring dan mencari di reruntuhan, menggunakan peralatan yang canggih untuk melakukannya. Detektor yang dapat mendeteksi sepotong logam jauh di dalam mayat - logam yang akan menunjukkan tempat bahan peledak itu berasal. Dan banyak lagi.



Tim yang akan "melempar dadu" bepergian secara terpisah - seperti yang selalu terjadi. Mereka memiliki pesawat mereka sendiri, mereka sendiri pilot. Mereka adalah laki-laki dan perempuan kidon, Mossad ultra-unit pembunuhan rahasia.



Satu-satunya pekerjaan mereka di Mombasa adalah untuk menemukan dan membunuh para pelaku pembantaian: orang-orang di belakang tiga pelaku bom yang telah pergi ke kematian mereka tertawa. Kidon akan membunuh para perencana pembantaian setelah mereka dilacak ke sarangnya- di mana pun. Mungkin dibutuhkan waktu yang cukup - seperti yang terjadi dalam pembalasan pembunuhan atlet Israel pada Olimpiade Munich tahun 1972. Tapi kidon akan menemukan orang-orang di belakang Mombasa kemarahan dan membunuh mereka.



Mereka akan menggunakan laboratorium kecil, racun disegel dalam botol sampai datang untuk menyerang. Bahan peledak tidak lebih besar dari permen pelega tenggorokan yang mampu untuk meniup dari kepala seseorang. Sebuah gudang senjata: laras pendek pistol, senapan sniper dengan jarak satu mil pembunuhan.



Tim terpilih untuk pergi ke Mombasa memiliki kemampuan bahasa lokal. Mereka bisa dianggap orang Arab atau pedagang India. Antara mereka, berbicara bahasa Swahili dan dialek lain. Mereka juga memahami bahasa yang tertutup dari dunia mereka.



Mereka telah belajar bagaimana menghafal serat - tepat deskripsi fisik orang. Neviof, bagaimana masuk ke kantor, kamar tidur, atau lainnya yang diberikan tanaman target dan bug mendengarkan - atau sebuah bom. Masluh, keterampilan mengibas ekor.



Para wanita telah belajar bagaimana menggunakan seks mereka. Untuk dapat selalu siap untuk tidur dengan seseorang untuk memperoleh informasi penting. Hubungan antara kerja intelijen dan jebakan seksual sama tuanya dengan mata-mata itu sendiri.



Meir Amit mengatakan, "Seks adalah senjata seorang wanita. Bantal berbicara bukan masalah bagi dia. Tapi itu butuh jenis khusus keberanian. Hal ini bukan hanya tidur dengan musuh. Hal ini untuk mendapatkan informasi."



Tim kidon telah melewati dua tahun kursus di sekolah pelatihan Mossad di Henzelia, dekat Tel Aviv. Mereka telah dikirim ke sebuah kamp khusus di padang pasir Negev. Di sana mereka telah belajar untuk membunuh.



"Mereka diajarkan bagaimana menggunakan senjata sesuai dengan target. Pencekikan dengan pemotong keju jika korban akan dibunuh di malam hari. Sebuah pistol memakai peredam. Sebuah agen saraf disampaikan oleh aerosol atau suntikan," jelas Victor Ostrovsky, seorang mantan anggota kidon.



Ostrovsky, yang saat ini tinggal di Arizona, tidak akan mengatakan siapa dia telah dibunuh. Tapi ia berhenti dari Mossad "melewati masa panjang menjual-menurut tanggal. Kita melakukan hal-hal berbeda sekarang".





Pria Mossad dikenal sebagai "The Engineer" adalah top-pembuat bom Hamas. Dia tinggal di Tepi Barat, dilindungi oleh pria bersenjata.



Suatu hari ia menerima pengunjung - sepupu jauh dari Gaza. Muda itu berbicara seperti begitu banyak dari sarang fanatisme Islam.



Selama minum teh, kedua pria berbicara jauh ke dalam malam. Akhirnya, "The Engineer" mengundang para tamu untuk menginap. Tawaran itu diterima. Si pemuda bertanya apakah ia dapat menggunakan The Engineer ponsel untuk menghubungi keluarganya sendiri untuk mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir.



Ia bertanya apakah ia dapat membuat panggilan dari luar rumah untuk meningkatkan penerimaan. "The Engineer mengangguk. Panggilan berakhir, kedua pria itu tertidur di lantai.



Keesokan harinya, para pemuda kiri kembali ke Gaza. Pagi itu, The Engineer menerima panggilan. Ketika ia meletakkan telepon ke mulutnya dan mulai bicara, kepalanya meledak.



Pemuda itu telah direkrut oleh Mossad untuk menanam bahan peledak yang kuat di dalam telepon. Sinyal ledakan itu berasal dari sebuah kidon setengah mil jauhnya.



Tidak seorang pun melihatnya datang. Tak ada yang melihat dia pergi.



Selama bertahun-tahun, Mossad telah membunuh puluhan musuh-musuh Israel dengan metode tersebut.



"Kami mencoba untuk tidak pernah menggunakan metode yang sama dua kali. Teknisi kami menghabiskan seluruh waktu mereka merencanakan cara-cara baru untuk membunuh," kata seorang sumber Mossad.



Komposisi yang biasa adalah empat tim. Salah satunya adalah "target pelacak". Tugasnya adalah untuk mengawasi gerakan korban. Lain adalah "transporter", untuk mendapatkan tim aman dari daerah pembunuhan.



Dua orang yang tersisa melakukan eksekusi. Dalam kasus Gerald Bull mereka mengetuk pintu depan rumahnya larut malam. Para ahli balistik baru saja pindah masuk Dia telah meyakinkan ia aman oleh minders Irak. Tapi mereka telah dipancing pergi oleh beberapa kidon tim cadangan.



Ini dikenal sebagai sayanim - kata Ibrani untuk pembantu. Seluruh dunia terdapat puluhan ribu. Masing-masing dengan hati-hati telah direkrut untuk memberikan jenis bantuan yang diperlukan unit kidon untuk membunuh Bull.



Pembunuhan sederhana. Kedua kurir FedEx kidon mengenakan seragam. Satu membawa sebuah paket. Lain mengetuk pintu. Ketika Bull membukanya, paket itu menusuk padanya. Ketika ia melangkah mundur ia ditembak - sekali di dahi dan sekali di tenggorokan. Ia terbang mundur ke lorong. Paket itu diambil, pintu tertutup di belakang mati Bull. Kedua laki-laki dengan tenang berjalan pergi ke mana "transporter" sudah menunggu. Dalam jam, tim sudah kembali di Tel Aviv.



Persiapan untuk pembunuhan dapat waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Tim yang memukul, setelah dipilih, akan pindah ke rumah aman Mossad, salah satu dari banyak orang di Israel.



Eli Cohen, mantan agen Mossad, mengatakan bahwa "rumah aman itu tampak seperti perabotan dari boot mobil".



Meir Dagan juga merupakan rajin membaca sejarah intelijen lainnya. Dikatakan dia tahu lebih banyak tentang CIA dan MI6 daripada banyak karyawan saat ini.



Dia terus-menerus mengingatkan stafnya tindakan itu tidak bisa menunggu kepastian. Motif dan penipuan yang berada di pusat usaha mereka. Bahwa mereka harus menciptakan situasi yang sebenarnya berusaha untuk menarik keluar dari kegelapan. Baginya seni informasi dugaan adalah senjata penting.



Sejak Mombasa, Dagan telah benar-benar bekerja dan tidur di kantornya. Jendela melihat ke arah timur ke Yudea Hills. Beyond adalah tanah tandus suku Pakistan - di mana Dagan yakin Osama bin Laden bersembunyi. Dagan percaya akan mencoba melarikan diri jika perang dimulai. Pimpinan Mossad akan menunggu.



Sementara itu, dia sibuk dengan berita terbaru dari Mombasa - dan semua titik-titik timur di mana tim kidon melacak para perencana dari kemarahan.



Beberapa orang pergi ke Indonesia. Lainnya ke Pakistan dan Afghanistan.



Mossad yang berwujud sebagai ilmuwan dan patolog, serta agen-agen lapangan, katsa, telah disisir dan dikantongi petunjuk dari hotel Paradise daerah bencana.



Agen Mossad di Nigeria telah memberikan rincian penting al-Quada di negara itu. Katsa di Afrika Selatan telah bergabung dengan rekan-rekan di Mombasa. Dari Roma, Malta dan Siprus, agen Mossad lain melaju melalui Afrika ke negara galak yang panas.



Mossad telah membuat tidak punya teman di tanahnya sendiri. Mereka jarang. Itu adalah gaya mereka: pergi sendiri. Mereka percaya bahwa mereka tahu lebih banyak daripada orang lain dalam memerangi terorisme. Dan mereka mungkin benar.



Di Tel Aviv, setelah melakukan semua yang dia bisa untuk saat ini, Meir Dagan menunggu.



Pertempuran keras di masa lalu dan pahlawan perang di Lebanon, di semua tempat di Timur Tengah di mana lorong-lorong tidak punya nama, telah menerima reputasinya sebagai tak dilarang memegang pemimpin. Pada masa itu, dengan pistol di sakunya dan anjingnya di tumit, ia telah memimpin dari depan. Dua kali ia telah terluka, sehingga kini ia kadang-kadang menggunakan tongkat. Dia tidak suka melakukannya. Dia membenci tanda-tanda kelemahan dalam dirinya sendiri atau orang lain.



Dagan adalah orang tumpul, bangga dan angkuh dan siap untuk berdiri di atas catatan. Ia menghancurkan Intifadah pertama di Gaza pada tahun 1971. Dua tahun kemudian ia bertempur di Perang Yom Kippur.



Bagi dia, Mossad, dan akhirnya Israel, Mombasa adalah ujian - untuk menunjukkan bahwa Mossad adalah kembali ke tengah panggung dengan sepenuh hati.



Tidak ada layanan intelijen memiliki sejarah operasi yang lebih baik di Afrika Tengah. Pada 1960-an Mossad mengusir kebanggaan Intelijen Rahasia Cina. Berhenti di Kuba: Fidel Castro ekspor revolusi-nya ke Afrika. Ini mengalahkan KGB pada rencana sendiri untuk mengubah Kongo dalam permainan. Itu adalah kotor dan perang mematikan.



Sebuah kelompok teroris menyerang sebuah katsa Mossad di Kongo dan memberinya makan ke buaya. Mereka difilmkan yang terakhir, perontokan saat-saat di dalam air - dan mengirim rekaman ke kepala stasiun Mossad lokal. Ia membalas dengan menempatkan dua bom di bawah kursi toilet pemimpin teroris.



Mossad membangun hubungan dengan BOSS, layanan keamanan dari pemerintah apartheid Afrika Selatan. Lalu, mengirim tim ke Pretoria untuk mengajar seni BOSS metode canggih interogasi. Instruktur memperlihatkan seni hitam kurang tidur, hooding, memaksa seorang tersangka untuk berdiri menghadap dinding selama berjam-jam, dan mental seperti mengejek penyiksaan demi penyiksaan.



Mossad menggunakan metode-metode yang sering di luar hukum. Mereka memiliki unit yang berspesialisasi dalam pencurian - menggunakan jauh lebih canggih daripada yang digunakan oleh pencuri Watergate yang terkenal. Kebodohan mereka menyebabkan jatuhnya Presiden Nixon.



Mereka memiliki tim khusus dari ilmuwan yang bekerja di Institut Penelitian Biologi di Tel Aviv. Mereka menyiapkan racun mematikan untuk kidon.



Badan-badan intelijen lainnya tidak lagi mengizinkan agen mereka untuk membunuh, kidon tidak memiliki pengendalian diri seperti itu. Mereka tetap memiliki lisensi penuh untuk membunuh dalam nama Israel secara rutin setelah mereka yakin bahwa incumbent dari kebutuhan untuk melakukannya.

(read more ...)





Sayyid Qutb, pengarang tafsir Fi dzilali al Qur’an dan buku Ma’alim fit thariq menentang keras pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa jihad bersifat defensif. Qutb menekankan bahwa jihad fisik itu dilakukan bila dakwah Islam dirintangi. Bila dakwah atau jihad dengan lisan tidak dirintangi, maka jihad dengan lisan itulah yang dilakukan. Jihad dengan lisan dan penjelasan akan mudah dilakukan jika saja antara manusia dan dakwah ini tidak ada aral yang merintanginya, kebebasan dakwah terjamin dan merekapun terlepas dari tekanan eksternal.



Qutb melanjutkan bahwa pada periode Mekah hingga periode awal hijrah ke Madinah, kaum muslimin tidak diperintahkan untuk berperang. Mereka hanya diperintahkan “ Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikan shalat dan tunaikan zakat” ( An-nisa’ 77). Tidak diizinkannya berperang pada periode Mekah ini, menurutnya ada beberapa kemungkinan sebab: telah terjaminnya kebebasaan berdakwah di Mekah, fase mekah adalah fase pendidikan dan persiapan serta untuk menghindari peperangan di setiap rumah karena antara keluarga di Mekah masih banyak yang belum Islam)



Kemudian Allah mengizinkan perang dalam firman-Nya:



/ ?uzina lillazi:na yuqa:til-u:na bi?anna-hum zulim-u: wa inna alla:h-a ‘ala: nasr-ihim laqadi:r-un. Allazi:na ukhrij-u:na min diya:r-ihim bigairi haqq-in ?illa ?an yaqu:l-u rabbu-na: alla:h-u, walau la: daf’u alla:h-i al na:s-a ba’da-hum bi-ba’d-in la-huddimat sawa:mi’u wabiya’-un wa salawa:t-un wa masa:jid-u yudkaru fi:ha ?ismu alla:h-i kasi:r-an wa la-yansuranna alla:h-u man yansur-u-hu, ?inna alla:h-a la-qawiyy-un azi:z-un/



‘Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa’(QS. Al Hajj: 39-40)









Kemudian Allah mewajibkan peperangan terhadap orang-orang yang memerangi mereka saja “ dan perangilah dijalan allah orang-orang yang memerangi kamu...”(Al-baqarah 190). Setelah itu Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik semuanya “ dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semua..” (Attaubah :36)



Dikatakan pada mereka:



/ qa:til-u: allazi:na yu’min-u:na bi alla:h-i wa la: bi alyaumi al-?a:khir-i wala: yuharrim-u:na ma: harram-a alla:h-u wa rasu:l-uhu wala: yadi:n-u:na di:na al-haqq-i min allazi:na ?u:tu al-kita:b-a hatta: yu’tu: al-jizyat-a ‘an yad-in wa hum sa:gir-u:na/



‘Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.’



Qutb mengatakan bahwa peperangan dalam Islam mengalami perkembangan yang menarik: pertama diharamkan, lalu diizinkan, lalu diperintahkan hanya untuk orang-orang yang memulai peperangan, kemudian terakhir diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik yang ada.



Qutb juga membantah kaidah pergerakan Islam dan Jihad, sifatnya mempertahankan diri ( ad difa’). Menurutnya orang-orang yang menyandarkan pada alasan-alasan yang sifatnya pertahanan bagi perluasan pergerakan Islam adalah orang-orang yang terpedaya pada serangan orientalis.”



Jihad yang tidak defensif itu, merupakan landasan bagi pemuliaan manusia di muka bumi. Untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada hamba menuju penghambaan pada Allah. Selanjutnya Qutb mengatakan : “ tidak ada diantara mereka yang berkata , saat mereka bertanya kenapa mereka berperang: “ kami keluar untuk mempertahankan negeri kami dari ancaman musuh!” atau kami keluar untuk menghalau musuh-musuh kami dari bangsa Persia dan Romawi,” atau “ kami keluar untuk memperluas daerah kami dan mengeruk rampasan yang banyak.”



Mereka berkata, “ Allah mengutus kami agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki dari penghambaan hamba kepada penghambaan Allah semata. Dari kesempitan dunia menujukeluasannya. Dari kelaliman agama-agama lain, menuju keadilan agama Islam. Lalu ia mengutus utusannya dengan agama untuk makhluknya. Barang siapa yang menyambut kami, kami akan sambut baik-baik, kami biarkan, tiadak akan kami ganggu di tanahnya. Barang siapa yang membangkang, akan kami bunuh hingga kami mati syahid dan masuk surga atau kami mendapat kemenangan yang gemilang.”



Kewajiban jihad itu harus bergerak menyebar ke seluruh dunia, karena Islam itu memiliki karakteristik yang selalu bergerak ke depan untuk menyelamatkan manusia di dunia dari penghambaan terhadap selain Allah. Islam tidak terpetakan pada batas-batas geografis atau batas-batas rasial. Islam tidak mungkin meniggalkan sebagaian manusia yang hidup di belahan bumi bergelimang kejahatan, kerusakan dan kebodohan. Jihad dalam Islam adalah jihad untuk menegakkan manhaj, dan mendirikan sitem yang universal (sistem ilahi).






(read more ...)





Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.



Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.



Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.



Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.



Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.



Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.



Kalau yang kamu serukan kepada mereka (orang-orag munafik) itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.



Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.



Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.



Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.



Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.



Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)



Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.



Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.



Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.



Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”



Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.



Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.



Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)



Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.



Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)



Wahai ikhwah kekasih Allah swt.



Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.



Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan



Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.



Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.



Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)



Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.



Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan.



Wallahu a’lam.





(read more ...)