Profile

  • Muhammad Al-ikhwan حسن البنا
    Muhammad Al-ikhwan حسن البنا
    Mujahidin kini telah berevolusi menjadi sebuah fase yang matang. Lilin ini tidak dapat dipadamkan hanya dengan meniup. Kafilah Mujahidin dan para pejuang pasti akan segera mencapai tujuan, cepat atau lambat.

Tag







Maret akan segera usai. Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?


Sejarah April Mop


Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.


Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.


Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentines Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.


Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The Aprils Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.


Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.


Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Quran, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Quran. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.


Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.


Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Quran. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.


Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.


Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.


Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.


Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.


Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.


Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.


Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The Aprils Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.


Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.


Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari. (sa/berbagaisumber)



(read more ...)






Untuk saudaraku di Indonesia

Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia? namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku? disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah Saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari Jamaah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji, ada sekitar 205 ribu jamaah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jamaah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jamaah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja?. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah? Wah wah, pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, Subhanallah.


Wahai saudaraku di Indonesia

Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah, pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil....yah diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.


Namun mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya, terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah.... itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding..... ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus abortusnya untuk wilayah ASIA.... Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian..??? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut? sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini.


Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan .... atau got-got apalagi ditempat sampah saudaraku!, Mereka mati syahid saudaraku, mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!! Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel.


Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami. Namun, sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar... Allahu Akbar!!!


Wahai saudaraku di Indonesia

Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar.... Apa karena kalian sulit mencari rezki disana? apa negeri kalian sedang di blokade juga? Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan.... walau sudah lama kami di blokade. Kalian terlalu manja? Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda Baru saja melangsungkan pernikahan, yah... mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Ismail Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut .


Wahai Saudaraku di Indonesia

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan "pengajian" atau halaqoh pembinaan Di negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut... Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan Buku-buku pasti kalian telah lahap.... kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu Kami tidak memiliki waktu yang banyak di sini wahai saudaraku? Satu jam... yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut Walau Cuma satu jam saudaraku.


Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti taaruf, tafahum dan takaful di sana. Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami... Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai "nyanyian perang" kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang.... bagaimana Dengan kalian? Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al quran, umurnya baru 10 tahun, Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma.... yah ditempat itulah mereka belajar saudaraku, bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel, Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal...karena memang di depan mereka tafsirnya langsung Mereka rasakan.


Wahai Saudaraku di Indonesia

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian di sini. Subhanallah, kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan di sini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami di sini, termasuk kalian di Indonesia Namun... bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya. Kamilah yang berterima kasih, partai kami yaitu Hamas sejak berjuang melalui demokrasi Sejak tahun 2006, terinspirasi oleh kemenangan partai dakwah kalian di Indonesia. Ya,temanku Itu adalah aktivis PKS, kalian lah yang mengajarkan kepada kami, karena kalian yang lebih dahulu berjuang lewat pintu ini, kami baca semua tentang kalian. Sungguh kalianlah yang mengajarkan bagaimana mengelola partai yang baik, dekat dengan masyarakat, melayani mereka, mulai baksos sampai dengan DS (direct selling), murni kami jiplak dari kalian semua. Dan hasilnya saudaraku, kami menang dengan angka 67% suara.... Allahu Akbar!!!


Tahun 2010 kami juga akan pemilu disini... kami tetap mengurus partai seperti yang kami belajar dari kalian, tetap membina para kader kami, dengan dengan masyarakat dan satu lagi kami juga tetap mengangkat senjata untuk mengusir tentara Israel dari bumi palestina. Saya dengar bulan April ini kalian akan pemilu, dan katanya targetnya 20% saja. Sebenarnya sebagai seorang "murid" kami malu, kenapa? Karena angka tersebut terlalu kecil untuk seorang "guru" seperti kalian. Kalian tidak sedang mengangkat senjata, seperti kami disini, kader kalian banyak.... Apalagi yang kurang dari kalian. Saya cuma bisa berdoa semoga kalian bisa memenangkan pemilu nanti.


Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.


Akhuka.... Abdullah (Gaza City, 1430 H)


(read more ...)



Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.



Sifat ini ditandai dengan ketidaksiapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain; keengganan melakukan introspeksi (muhasabah); serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.



Padahal, kebaikan hanya bisa terwujud manakala seseorang bersikap rendah hati (tawadu); mau menyadari dan mengakui kekurangan diri; melakukan introspeksi; serta siap menerima kebenaran dari siapa pun dan dari mana pun. Sikap seperti ini sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang mulia dari para nabi dan rasul.



Nabi Adam AS dan Siti Hawa saat melakukan kesalahan dengan melanggar larangan Tuhan, alih-alih sibuk menyalahkan iblis yang telah menggoda dan memberikan janji dusta, mereka malah langsung bersimpuh mengakui segala kealpaan seraya berkata, "Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al-Araf [7]: 23).



Demikian pula dengan Nabi Yunus AS saat berada dalam gelapnya perut ikan di tengah lautan. Ia tidak menyalahkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri, seraya terus bertasbih menyucikan Tuhan-Nya. Ia berkata, "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesunguhnya, aku termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al-Anbiya [21]: 87).







Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membaca istigfar dan meminta ampunan kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran yang paling tinggi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, ia harus selalu melakukan introspeksi. Beliau bersabda, "Wahai, manusia, bertobatlah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sebab, aku bertobat sehari semalam sebanyak seratus kali." (HR Muslim).



Begitulah sikap arif para nabi yang patut dijadikan teladan. Mereka tidak merasa diri mereka sudah sempurna, bersih, dan suci. Allah SWT berfirman, "Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS Annajm [53]: 32).



Karena itu, daripada mengarahkan telunjuk kepada orang, lebih baik mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri. Daripada sibuk melihat aib orang, alangkah bijaknya kalau kita sibuk melihat aib sendiri. Dalam Musnad Anas ibn Malik RA, Nabi SAW bersabda, "Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib orang lain."

(read more ...)



Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)



Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”



Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”



Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah subhanahu wa taala telah melarang hal ini dalam firman-Nya :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)



Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”



Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat.

Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Quran dan As Sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.



Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wa taala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.



Saudariku Muslimah … .



Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda :



“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)



Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari adzabnya.



KUFUR SAMA SUAMI ( LAKI )



Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah subhanahu wa taala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasai)



Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah subhanahu wa taala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.



Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.



Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.



KENGERIAN NERAKA



Allah subhanahu wa taala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)



Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”



Ibnu Abbas radliyallahu anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”



Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah subhanahu wa taala.







Di dalam surat lainnya Allah subhanahu wa taala berfirman :

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)



Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.



Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya beliau bersabda :

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” ( Shahihul Jami)



Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah subhanahu wa taala menyelamatkan kita dari neraka.



Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak.



Allah subhanahu wa taala berfirman :

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)



Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi saya hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

(read more ...)




Aku ini seperti orang yang menyalakan api,” begitu Rasulullah memberi perumpamaan.



Lalu serangga-serangga ingin mendekati api itu. Tak mudah dicegah, serangga-serangga itu banyak yang akhirnya masuk ke dalam api dan terbakar.


Lalu aku menghalau serangga itu agar menjauhi api. Tetapi mereka terus mendesak dan terus berusaha masuk ke dalam api. Hingga banyak dari mereka yang terjerembab ke dalam api. Seperti itulah perumpamaan aku dan kalian. Aku membentengi kalian agar jangan terjerembab ke dalam api neraka. Aku katakan, ’Jauhilah api neraka itu, jauhilah api neraka itu,’ tapi kalian terus memaksa dan mengalahkan aku hingga kalian pun terjerembab ke dalam neraka.


Ini adalah drama konsistensi. Rasulullah konsisten membimbing umatnya. Tapi, justru banyak dari umatnya yang konsisten pula

untuk terus melawan. Konsisten untuk terus mendekati panasnya api neraka. Neraka yang dikelilingi dengan hal-hal yang indah di dunia ini, menggoda, dan melenakan.


Rasulullah menghalau manusia dari jalan kebatilan. Tapi banyak dari mereka yang justru terus menapakinya, bahkan dengan upaya yang sangat-sangat. Hari-hari ini kita melihat sebuah fase hidup dimana orang tidak saja melakukan kebatilan, tapi banyak yang konsisten di jalan kebatilan itu.


Banyak dari mereka yang melakukan semua itu dengan sadar. Bahkan dengan niat dan kemauan yang terus diperbaharui. Ada yang ingin menunjukkan kehebatan intelektualnya. Ada yang ingin menonjolkan kemampuannya dalam menganalisa, mengurai dan mengkritik segala ajaran yang datang dari Allah. Ada yang dengan ringan menyebut Al Qur’an sebagai kitab suci yang paling porno.


Ada yang menawarkan sesuatu yang disebut pembaharuan padahal isinya penginkaran. Ada yang mengusung kebebasan dan liberalisasi dalam beragama, padahal isinya adalah penistaan terhadap ajaran Islam. Di sebuah perguruan tinggi terkenal, ada seorang dosen yang selalu marah bila mahasiswanya izin untuk melakukan shalat. “Ini yang membuat kalian terbelakang,” katanya dengan ringan.


Di antara mereka ada yang konsisten untuk memperjuangkan keseteraan dalam soal mengartikan yang benar. Baginya kebenaran tidak harus mutlak. Menurutnya tidak boleh ada monopoli dalam tafsir, bahkan tafsir tentang kebenaran yang datang dari Allah, sekalipun. Maka mereka merasa bisa membangun doktrin baru tentang salah, tentang benar, tentang baik. Itu semua akhirnya akan berefek terhadap penafsiran mereka tentang dosa. Secara langsung atau tidak langsung, mereka mereka telah memutarbalikkan hukum, sehingga dalam dialektika ilmiah yang mereka buat, bisa saja mereka seperti berani memikul dosa orang lain. Sebab, sesuatu yang salah dan berdosa, bisa saja mereka yakini tidak salah dan tidak berdosa.


Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ’Ikutlah jalan kami, dan kami akan memikul dosa-dosamu.’ Padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yagn selalu mereka ada-adakan.” (QS. Al Ankabut: 12-13).


Yang lain menyebut bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah warisan nenek moyang mereka sebagai sebuah budaya yang harus dihormati. Di masa para nabi-nabi terdahulu, banyak dari umat mereka yang menolak ajaran rasul mereka, dengan alasan untuk mem-pertahankan budaya peninggalan orang tua dan nenek moyang mereka.


Tapi ada juga yang konsisten di jalan kebatilan, karena jiwanya terlampau lemah untuk sekadar berkata tidak. Konsistensinya adalah keengganannya meninggalkan kubangan dosa. Ia tahu dirinya keliru. Tapi, seperti serangga-serangga itu, ia terus melihat api yang pa-nas sebagai cahaya indah yang harus dinikmati dengan cara meleburkan diri di dalamnya. Hari demi hari, hanyalah perpindahan dari kemaksiatan yang satu menuju kemaksiatan yang lain. Waktu demi waktu hanyalah berganti dari warna dosa yang satu menuju warna dosa yang lain.


Di ujung sana, ada orang-orang yang konsistensinya dengan kebatilan adalah kemalasannya untuk berubah menjadi baik. Tingkah laku buruknya ia anggap tak jadi soal, selama ia merasa tidak mengganggu orang lain. Dirinya adalah dirinya sendiri. Pilihan hidupnya adalah pilihannya sendiri. Risiko hidupnya adalah risiko hidupnya sendiri. Begitu ia meyakini. Ia merasa mandiri. Menjadi baik tidak harus karena dipengaruhi oleh siapapun atau siapapun. Ia merasa bisa kapan saja berubah kalau dirinya mau. Hidup baginya adalah puncak kemerdekaan memilih. Seterusnya ia begitu. Ia konsisten di jalan kebatilan. Sebab ia merasa, dengan itu, ia menjadi dirinya sendiri dan bukan menjadi orang lain.


Beberapa yang lain, konsisten dengan caranya sendiri. Ia tak pernah punya gairah untuk meningkatkan diri. Ia cukup puas menjadi orang yang biasa-biasa saja. Termasuk sangat biasa dalam soal amal dan kebajikannya. Ia tak perlu merasa menjadi hebat meski pun bisa. Sebagaimana ia pun terlalu sering memaafkan dirinya untuk segala kebatilan yang ia lakukan. Ia cepat lupa. Bahkan terhadap dosa-dosanya sendiri. Ia tidak harus peduli pada apapun. Menjadi baik, dengan peran-peran yang menonjol, biarlah diperankan orang lain, la sudah merasa cukup bahagia dengan selang-seling kesalahan yang dengan cepat ia maafkan. “Jangan memaksakan diri,” begitu ia berkilah.


Drama konsistensi selalu punya sisi ironisnya sendiri. Konsistensi Rasulullah yang terus menyeru, bukan untuk dirinya, tapi untuk kebaikan umat yang diserunya. justru mereka yang diseru banyak yang tak mempedulikan diri mereka sendiri. Mereka bahkan konsisten untuk melawan, konsisten untuk memilih jalan kebatilan, dan konsisten untuk membela jalan kebatilan itu.


Salah dalam berbuat, berbeda dengan sengaja melakukan salah. Keliru menjalani hal yang batil tidak sama dengan secara khusus memang bermaksud melakukan yang batil. Sesekali keliru dan tergelincir, sangat tidak sama dengan orang yang terus menerus melakukan kebatilan, bahkan konsisten dengan kebatilan itu. Konsisten ’memperjuangkan’ kebatilan itu.


Setiap kali ilmu manusia bertambah, tidak selalu berarti sikap bijaknya pun bertambah. Setiap kali pengetahuan manusia meningkat, tidak otomatis jiwa ketundukannya kepada kebenaran juga meningkat. Sebab, ketundukan terkait erat dengan sifat ikhlas, percaya, dan yakin. Ikhlas kepada ketetapan Allah. Percaya kepada kebenaran yang datang dari Allah, dan yakin bahwa apa yang ditetapkan Allah adalah yang benar dan paling baik bagi kehidupan makhluknya. Sedang pengetahuan, ilmu, tanpa ruh keimanan, bisa saja menjadi bencana dan hanya dipakai untuk membuat kerusakan di muka bumi.


Konsisten dengan kebatilan punya gradasinya masing-masing. Ada yang konsisten dengan kekafirannya, membela kekafiran dengan bermacam alasan ilmiah yang dipaksakan. Tapi ada juga jenis kebatilan yang terlihat kecil, tetapi orang menjalaninya secara konsisten. Di kemudian hari, ia tak menyangka, bahwa ucapan dari lidahnya yang tajam, misalnya, telah menumpuk menjadi segunung dosa.


Tidak menutup aurat adalah sebentuk kebatilan. Bila terus menerus dijalankan, sepanjang hidup, dengan sadardan keengganan untuk berubah yang diawetkan, itu artinya orang tersebut konsisten dengan kebatilan. Begitu juga dengan kekeliruan dan kesalahan yang lain. Membunuh diri sendiri dengan berbagai racun fisik atau racun pikiran, secara terus menerus, adalah sebentuk konsistensi kepada kebatilan. Begitu juga suami yang selama hidupnya selalu menyakiti istrinya, atau istri yang selalu tidak syukur dengan rezekiyang diberikan Allah. Atau pejabat yang setiap musim haji menangis di depan Ka’bah. Tetapi setelah itu selalu korupsi. Ia menangis bukan untuk bertaubat. Ia menangis minta harta haramnya setahun lalu diputihkan oleh Allah. Begitu seterusnya. Ada mahasiswa yang konsisten menyontek. Ada remaja yang konsisten bergonta-ganti pasangan tanpa status hukum kecuali hukum kebebasan.


Al Qur’an memberi apresiasi yang baik bagi orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri. Tapi tak ada tempat bagi orang yang konsisten di jalan keburukan.


Tak ada konsistensi dengan kebatilan dan kekafiran yang melegenda seperti kafirnya Fir’aun. Ia menyeru, berbuat, menghukum, menyiksa, berkuasa. Dan satu lagi, ia konsisten. Sepanjang hidupnya ia menjalani misi itu. Namun Fir’aun yang angkuh itu, pada detik kematiannya menyadari betapa ia telah keliru. Di ujung setiap akhir hidup para pembela kebatilan, selalu saja ada drama yang menyedihkan. Ia toh bukan siapa-siapa.


Dan juga Qarun, Fir’aun, dan Haman. Sungguh telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah). Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak mendzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 39-40).


Aku ini seperti orang yang menyalakan api,” begitu Rasulullah memberi perumpamaan. Dan kita hanyalah serangga-serangga. Yang terus berusaha menerobos api. Di antara kita, mungkin banyak yang telah terjerembab, hangus, dan mati menelan api. Yang lain meronta, menerjang, dan melawan logika-logika jiwanya sendiri yang jujur. Yang lain bersabar untuk memahami, dan Allah pun memberitahu cara untuk mengerti.


Kita hanyalah serangga-serangga itu.


Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi’ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M


(read more ...)



Dia kembali dari rumahnya ke rumah keluarganya dengan menangis dan penuh pengaduan.

Belum genap dua tahun bersama suaminya kemudian tiba-tiba dia kembali, dia kembali bersama anaknya yang masih kecil dan membawa pulang seluruh apa yang dia miliki.

Apakah kamu melihat dimana suaminya? Kenapa dia meninggalkannya? Atau dia menceraikannya?.

Ketika ditanya dia berkata: "Sesungguhnya dia telah mengucapkan perpisahan kepada kami selama-lamanya, dia telah pergi keluar untuk berjihad fi sabilillah seperti yang dia katakan!"

dia berpergian ke negeri yang jauh, berjihad fi sabilillah di negri para nabi tempatnya kiblat umat islam pertama!

Keluarga dan para kerabatnya terguncang: Dia itu memang gila! Bodoh! Ceroboh! Dan lain-lain.

Bagaimana dia bisa pergi dan meninggalkan keluarganya begitu saja? Jika dia belum menikah itu pasti baik baginya, tapi bagaimana dia rela istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim? Bagaimana dia meninggalkan pekerjaannya? Padahal dia berusaha untuk bekerja dengan tekun. Dia bisa duduk sambil beramal di bidang dakwah untuk membela agama Allah jika dia jujur, maka dia bisa ikut di dalam bidang yang masih sedikit

orang yang menekuninya, beramal dengan pena itukan juga jihad!



Teman wanitanya berkata: "Aku tahu apa faktor yang menyebabkan dia meninggalkanmu, karena kamu tidak berbuat baik kepadanya dan tidak suka bersolek dihadapannya!!! Jika kamu rajin dan tekun dalam hal itu tentu dia tidak akan pergi meningggalkanmu".

Saudaranya berkata kepadanya: "Aku sudah memperingatkanmu dari menikah dengan pemuda, sesungguhnya mereka itu tidak mampu bertanggung jawab,

dan tidak dapat menjaga semangatnya".

Saudariku: Jangan kau hiraukan orang-orang itu. Tetap teguhlah, sungguh kamu berada di atas kebenaran. Suamimu telah keluar untuk berjihad, bukan karena tidak suka denganmu, akan tetapi untuk menegakkan kewajiban Allah dan kecintaannya pada pahala yang kamu akan ikut mendapatkannya jika kamu bersabar dan tabah. Janganlah kamu tertipu dengan sedikitnya orang-orang yang menempuh jalan ini, sesungguhnya itu merupakan keterasingan yang telah disebutkan oleh Rosululloh SAW:



طوبى للغرباء



"Maka berbahagialah orang-orang yang asing".

Apa yang telah kamu dengarkan itu hanya sedikit saja dari rasa sakit yang pernah dialami oleh Rosulullah SAW sebaik-baik manusia dan istri-istrinya serta anak-anaknya. Nabi telah berhijrah dan meninggalkan anak-anaknya di Makkah, begitu juga Abu Bakar Ash Shiddiq, sesungguhnya itu bagian dari agama yang kita tidak diciptakan kecuali untuk itu, dan segala sesuatu itu remeh selain agama.

Janganlah engkau tertipu dengan syaikh yang memakai pakaian jubah dan nampak di layar televisi dan berkata: "Jihad itu fitnah". Sebenarnya fitnah itu adalah keikut sertaanmu wahai corong-corong penguasa dengan penguasa kalian, bahkan janganlah kamu memuji dengan banyaknya para syaikh tersebut. Alloh SWT berfirman:



وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ



" Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya, mereka itu hanya mengikuti persangkaan-persangkaan belaka" (QS. Al Anam : 116).

Apakah engkau melihat dia mengatakan apa-apa yang menjadi agama Allah?..

Jika engkau mengatakan: "Dia akan meninggalkanku selamanya". Ini adalah tidak benar. Tidak! Dia tidak pergi untuk selamanya, di sana ada hari dimana engkau akan bertemu dengannya di jannah jika engkau tidak berubah pendirian.

Dan tidak samar lagi bagimu bahwa setiap manusia harus meninggalkan keluarganya, hanya saja perpisahanmu dengan suamimu telah dipercepat oleh Allah. Dan pada beberapa manusia telah ditakdirkan untuk sedikit bersenang-senang dengan orang-orang yang dicintainya kemudian berkesudahan dengan perpisahan. Maka teman kamu pasti akan berpisah dengan suaminya yang dia kira bahwa suaminya tidak akan meninggalkannya karena dia mencintainya. Dia pasti akan pergi walaupun dia membenci kepergian itu. Ya! Dia akan mati, atau istrinya yang akan mati dahulu dan dia kemudian menikah lagi dan melupakannya.



Inilah sunnah kehidupan, pasti akan fana, sedangkan diakherat maka disana kehidupan yang kekal, kekal abadi dan tidak akan fana, maka pejamkanlah matamu dari finah dunia ini dan dari kesusahannya dan kemiskinan dan beramallah, bersungguh-sungguhlah dalam beramal sampai kamu bertemu dengan Robbmu dan Dia dalam keadaan ridho denganmu, untuk mempersiapkan pertemuanmu dengan orang-orang yang engkau cintai: bapakmu, suamimu dan saudara-saudaramu.

(read more ...)



Oleh: Abu Hudzaifi

    

     Kekasihku ... episode Bukan Di Negeri Dongeng nampaknya sudah berakhir. Bahkan cepat sekali berakhir. Keindahanmu memudar padahal kau masih muda, enerjik, dan penuh vitalitas.  Sebenarnya aku masih banyak berharap padamu sebagaimana hari-hari yang lalu. Hari-hari kau masih begitu indahnya;  gadis cantik penuh pesona.  Banyak pemuda lain tergila-gila padamu pada hari-hari kau disebut sebagai  spirit baru bagi umat manusia.



    Hari-hari indah telah kita lalui bersama, aku pun sangat menikmati dan bangga  ada disampingmu.  Karena kau benar-benar lain dan layak untuk dibanggakan, sampai banyak sekali para pemuda yang siap menjadi pembelamu di depan. Banyak  ahli kecantikkan  mencari-cari rahasia keelokkanmu. Tidak sedikit penulis mencatatmu sebagai fenomena baru di negeri ini. Tak ketinggalan, kuli tinta pun memujimu; cantik, cerdas, dan generasi masa depan, satu lagi, shalihah! Namamu menjadi garansi semua harapan. Nyaris sempurna.  Memang, ada pula yang iri hati padamu. Ah .. itu hal biasa.  



    Sebagai gadis baru di  kota tua penuh drakula, dunia baru bagimu, tentu keberadaanmu amat dibutuhkan, ya.. memang menyegarkan dan membuat suasana semakin hidup, masih ada yang bisa diharapkan. Silahkan lihat hatiku, di sana ada dirimu. Di ruang kerjaku fotomu menjadi rebutan. Di rumah? Apalagi! Bahkan  banyak fans-mu yang meletakkanmu di tempat yang tidak  terduga dan sulit dijangkau oleh tangan-tangan berhati kotor. Maka, saat itu, tak ada yang mampu menghalangi gelora cintaku padamu, dan aku yakin jika ada kontes miss  muslimah shalihah  kau adalah pemenangnya; gadis cantik, cerdas, nan shalihah.



    Namun, langit memang tak selamanya cerah. Bulan tidak selamanya terang. Aku lihat, ada sebuncah kekhawatiran menimpa dirimu. Bukan karena kejahatan orang lain, bukan pula sebab makar para pesaingmu yang memang sudah  sedari dulu begitu sunatullahnya. Kecantikanmu memudar dan pesonamu menghilang karena ulah dirimu sendiri. Memang demikian adanya .... ketika manusia pada puncak kejayaannya, tak ada yang mampu menggelincirkannya, biasanya dia akan tergelincir oleh dirinya sendiri; ghurur. Kekasihku, kau menjadi gadis yang genit saat ini,  centil dan norak. Bahkan katanya, kau sudah berani menjual diri dengan harga murah, hanya demi kemenangan. Astaghfirullah!  Aku tidak tahu, apakah ini karena pengaruh dunia barumu itu?



     Kembali  manusia ramai membicarakanmu,  bukan  dirimu sebagai; gadis cantik, cerdas nan shalihah. Tetapi perilakumu yang berubah, batasan syar’imu  mulai abu-abu, keputusanmu untuk menjadi gadis ‘gaul’, katamu; agar bisa memperluas pasar, lalu kau kotori kecantikanmu dengan langkah berani dan kontroversi, serta lisan yang tidak terkendali. Nasihat orang tua, hukama dan pujangga sudah sering kau dapatkan, tetapi justru kau mengatakan: saya lebih tahu tentang apa yang saya lakukan!



    Ditambah lagi, kau mulai tidak telaten menjaga kesegaran tubuhmu, kesehatan jiwamu, dan kecemerlangan akalmu. Agenda-agenda ri’ayah hanya menjadi rencana kosong. Dahulu kau sangat telaten ke salon halaqah, spa daurah, dan les tastqifiyah. Tetapi itu dulu.   Saat ini, kau menjadi gadis yang ringkih, .... ringkih ruhani dan harga diri, tak berani berkata benar, aqidah  sudah keriput, padahal keriput hanyalah milik orang tua ... dan kau masih muda. Manusia mulai menjauh dan mencibir, bahkan marah, termasuk saudara dekatmu. Tak ada lagi kisah Bukan Di Negeri Dongeng yang legendaris itu. Tak ada lagi pujian  dari mereka untukmu, walau kau masih saja merasa cantik, cerdas, dan shalihah seperti dulu. (Ya ... itu romantisme kita masa lalu, boleh-boleh saja diingat). Tak ada lagi kebanggaan meletakkan fotomu di rumah, di kantor, dan sepeda motor! Apalagi setelah mendengar pernyataan-pernyataanmu dengan nada miring tentang syariah, jilbab, dan lainnya .. aku semakin malu.  Masukan-masukan yang kau dapatkan tak satu pun yang kau anggap ... pernah juga kau anggap .. tetapi sebagai angin lalu, bahkan sebagai musuh ...padahal nasihat itu dari kekasihmu sendiri ..   



     Kekasihku ..., jangan takut, aku masih mencintaimu, tetapi .. cinta bukan berarti memuji, menyanjung, dan selalu bermuka manis. Ingatkah ucapan manusia paling terkasih; law saraqat fathimah laqatha’tu yadaha (Seandainya Fathimah mencuri aku sendiri yang akan memotong tangannya). Padahal begitu besar sayang beliau terhadap anaknya.



Kekasihku ..., aku yakin harapan memang masih ada. Tetapi ada pada siapa?



Wallahu A’lam



(read more ...)



“Maaf Ustadz, Tidak adanya diriku tidak akan berpengaruh pada dakwah ini. Maka ijinkanlah aku insilah. Ijinkanlah aku tidak aktif lagi untuk beraktivitas bersama kalian. Ijinkanlah aku tuk tak lagi menjadi da’I (penyebar)….. "





Untuk engkau tahu ustadz, aku malu disebut da’I dan bahkan beberapa orang memanggilku ustadz karena kesenioranku …. Karena aku lebih tua dari mereka … Karena aku lebih dulu menjadi aktivis dibanding mereka …



Namun tetap saja, "...ana basyaru mitslukum yuha ilayya …."



Aku tetap manusia yang fana … yang tidak sempurna … yang memiliki berjuta kelemahan … yang kadang dikalahkan nafsu dan syahwat …. yang kadang terpukau oleh godaan dunia … yang kadang mengejar materi sampai kaki ini tersandung sandung …. Dan masih banyak lainnya, yang intinya … aku tetap manusia biasa….



Sebagai seorang yang katanya da’I, yang katanya tiap mukmin sejatinya adalah da’I, tiap jiwa yang mengaku islam adalah da’I, maka lihatlah ruhiyahku sungguh amburadul…. tilawahku tak seberapa, tergantikan canda tawaku dengan keluarga dan teman sahabat …. sholat malamku terlewat tergantikan dengan tidurku yang pulas terlena … puasa sunnahku ku reshufel dengan makan yang yang mengenyangkan hanya karena takut sakit magh … belum sholat wajibku yang kudirikan dengan kemalasan dan kulakukan diakhir waktu ….



Sebagai orang yang katanya da’I, aku malas belajar… aku malas menghapalkan ayat – ayat Al Qur’an…. Aku malas menyimak tausiyah – tausiyah para ulama. Buku – buku hanyalah penghias di rak – rak lemariku, acara kajian adalah ajang ngrumpiku ….



Sebagai seorang yang katanya da’I, berat rasanya aku beramal. Berat rasanya aku mengeluarkan 2,5% penghasilanku untuk zakatku, apalagi jika aku harus mengeluarkannya untuk infaq dan sedekah … berat … berat … apalagi untuk berjihad dengan jiwa …



Sebagai seorang yang katanya da’I, sedikit sekali aku menyisihkan waktuku untuk menyeru… karena aku takut akan menjadi orang yang dibenci Allah : “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan “. (Ash Shoff 2 – 3)



Sungguh aku malu ustadz, sampai – sampai ada saudaraku yang mengingatkanku dengan menuliskan dipintunya sebuah kalimat : “Katanya Ikhwan ….”





Kemudian ustadz, materi – materi yang telah engkau berikan, dan materi – materi yang telah para murobbi berikan… dengan kefahaman yang kusimpan di dalam dada, masih tak mampu untuk bergerak, untuk beramar ma’ruf, apalagi untuk nahi mungkar ….



Lidah ini masih kelu untuk mengajak orang lain mendalami islam yang katanya Indah…. Dan bahkan dulu sekali sempat kucoba untuk mengajak, kemudian mereka menyambut seruan ini…. Tapi sekarang mereka telah jauh sebagai akibat atas pilihan untuk masuk ke dalam dakwah ini… tapi apa yang kulakukan …. Tak ada …. Ampuni hambamu ini ya Allah…. yang telah mengajak mereka berjama’ah tapi kemudian kutinggalkan setelah musibah mereka terima …. Tangan ini begitu lemah untuk berbuat, lidah ini telah kaku untuk mengingatkan para junud dan qiyadah untuk menolong mereka … maka kepada-Mu lah aku berharap untuk menolong mereka …



Maka akal ini berkata untuk apa menyeru, untuk apa merekrut, jika setelah itu aku telantarkan… tanpa kuperhatikan kebutuhannya, tanpa ku obati kejenuhannya, tanpa kusinari ruhiyahnya ….



Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena tidak memperdulikan saudaraku yang lain yang tertimpa musibah. Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena seharusnya aku mencintai mereka seperti mencintai diriki sendiri …. Sesuai materi – materi itu ….





Maafkan aku ustadz, aku menganggap rumah ini tak lagi nyaman untuk di huni… tak lagi indah untuk dipandang … tak lagi bersih untuk dibanggakan … dan tak lagi ikhlas dalam kepedulian …. Atapnya telah bocor disana – sini dan tiang serta dindingnya makin rapuh.



Kulihat ada hukum – hukum yang sudah pasti hitam putihnya, sekarang telah dibuat menjadi remang – remang dengan alasan fiqih realitas. Tapi memang siapakah diriku, aku bukan ustadz, apalagi tidak memiliki kafaah syar’I untuk menelaah hukum



Kulihat juga kita mencoba – coba untuk melegalisasi kebatilan dalam dakwah kita, goyangan wanita tlah kita undang dalam pengajian kita … bukankah “…wala talbisul haqqo bil bathil …”



Kemudian pertemuan – pertemuan ilmiyah ruhiyah kini pun telah tergantikan dengan syuro – syuro hizbiyah yang sebenarnya telah memiliki perangkat dan waktunya sendiri. Mengapa tidak manajemen waktu, mengapa tidak tawazun dalam kegiatan … bukankah kita ummat pertengahan yang tidak condong ke salah satu sisi…. Bukankah jasad, ruh dan akal memerlukan porsinya masing – masing … seperti kata murobbi dulu ….



Selanjutnya, apakah sholat ini tidak begitu membekas sehingga kita selalu terlambat datang dalam pertemuan. Bukankah sholat itu mengajarkan kita untuk disiplin dan tepat waktu. Namun mengapa hampir semua kegiatan kita selalu terlambat setengah sampai satu jam dari jadwal semula ….





Yah, memang benar kita adalah manusia biasa. Yang tidak sempurna, yang memiliki kealpaan, yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Namun bagaimana jika hati ini telah begitu mengeras membatu ….



Yaa Allah…. Ayat pertama yang kau turunkan adalah perintah untuk mentarbiyah diri “Iqro… kata-Mu”. Seolah Engkau mengatakan jika aku muslim maka aku harus Tarbiyah. Namun hati ini telah begitu berat dan ingin Insilah, maka jika aku keluar dari Tarbiyah…. Apakah tidak diartikan aku keluar dari Islam karena Islam harus Tarbiyah ….



Dan benar, jika aku keluar dari Tarbiyah yang secara nggak langsung dianggap keluar dari Islam, maka dakwah ini tak kan goyah, islam ini tetap tinggi, karena seperti kata-Mu yaa Allah : ”Hai orang - orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al Maidah 54)



Jadi masih mungkinkah aku untuk insilah (keluar) ya ustadz …..

(read more ...)